Halo, penulis kembali lagi untuk sedikit sharing mengenai gimana sih pengalaman pertama pergi ke luar negeri.
Pertama, sebelum kita bergerak ke trip di negeri orang, ada baiknya kita membahas sedikit mengenai persiapan dokumen yang kita perlukan untuk ke luar negeri. Di sini, ane pribadi melakukan perjalanan yang memang murni hanya untuk liburan. Bukan untuk keperluan beasiswa atau lainnya, namun hanya murni untuk liburan. Dan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri, tentu dokumen utama yang kita butuhkan adalah passport dan visa. Ane akan bahas sedikit pengalaman waktu ane mengurus pembuatan kedua dokumen ini (sekitar pertengahan 2017). Yang pertama, untuk passport, ane urus di kantor imigrasi Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng (karena ane kerja di kawasan bandara, jadi cukup dekat). Saat itu ane masih menggunakan cara yang lama, yaitu dengan mengantri dari pagi (sekitar pukul 5.45 WIB) dan dapat antrian agak terakhir. Waktu itu seingat ane, dokumen yang ane bawa KTP asli (dan fotocopy), KK asli (dan fotocopy), fotocopy ijazah terakhir, sama materai 6000. Ane lupa dulu ada satu lagi butuh surat keterangan apa, tapi waktu itu bisa terbantu menggunakan ID Card pegawai. Setelah selesai semua berkas ini, tinggal tunggu panggilan untuk difoto, kemudian selesai. Tinggal bayar biayanya (bisa transfer via ATM kok), dan tinggal tunggu passport kita selesai dalam beberapa hari kerja.
Kita lanjut ke dokumen kedua, yaitu visa. Untuk dokumen yang ini, waktu itu ane mengurus melalui salah satu lembaga di Jakarta yang membantu urusan ini, yaitu VFS. Ane sempat gagal saat urus visa pertama kali dikarenakan saldo di rekening yang dianggap kurang (waktu itu disyaratkan minimal ada saldo mengendap selama 3 bulan pada rekening anda sebesar Rp 50.000.000,-). Kesalahan yang ane lakukan adalah, memindahkan saldo ane dari satu rekening ke rekening lain yang akan dicetak rekening korannya di hari yang sama, baru kemudian dilakukan cetak rekening koran. Sehingga di situ terlihat bahwa ada kejanggalan pada rekening ane yang dicetak (padahal ya saldo dari rekening ane sendiri, tapi berhubung yang dicetak cuma satu rekening, akhirnya bermasalah). Kemudian waktu itu ane urus yang kedua kalinya. Tapi kali ini ane lengkapi dengan surat pernyataan bermaterai bahwa nominal itu dari rekening sendiri. Dan daripada saya gagal lagi, saya menambahkan surat penjamin dari orang tua beserta rekening koran 3 bulan terakhir dari rekening orang tua. Singkat cerita, akhirnya pengajuan visa saya disetujui.
Pada saat mengurus visa, waktu itu saya ditanya seperti: "Kapan akan berangkat?", "Berangkat naik pesawat apa?", "Berapa lama berada di sana?", dan "Sesampainya di sana, di mana kamu akan tinggal?". Pada saat itu, tentu kita harus persiapkan itu semua. Minimal siap untuk menjawab keempat pertanyaan tersebut. Ane sendiri gak nyusun rencana perjalanan selama di London (baiknya untuk kalian yang memang ingin explore ke sana sini, susun rencana perjalanan ini sebaik-baiknya), toh ane berencana untuk solo trip ke sana, yang penting nikmati saja. Jadi memang ane gak nyusun rencana perjalanan (atau yang disebut itinerary), yang penting ada tempat tidur, bisa istirahat, sisanya tinggal mau ke mana ane hari ini, udah.
Lanjut untuk menjawab keempat pertanyaan tersebut. Ane berangkat di bulan Agustus 2017 (agak lupa tanggalnya, tapi deket-deket sama Agustusan lah) menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Pesawat ini transit dulu sebentar di Singapura untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandara Heathrow London. Ane di sana hanya sekitar lima hari, benar-benar hanya jalan-jalan sendiri (total 7 hari dengan flight-nya). Dan ane tinggal di dua tempat. Pertama, ane mencari penginapan murah yang terletak dekat dengan bandara karena ane sampai sana sekitar jam 19.00 WIB (agak lupa pastinya waktu itu sampai di sana jam berapa). Dan yang kedua, ane mencari penginapan yang dekat dengan kota yang ane tuju (tentu dengan harga yang murah juga). Penginapan yang pertama adalah "Heathrow Lodge" (serius ini termasuk murah di dekat bandara ya), dan yang kedua adalah di "Smart Camden Inn" (model share room dengan kasur tingkat). Penginapan ini ane pesan melalui booking dot com. Dan saran ane, kalau sebenarnya kalian ingin buat rencana perjalanan dan belum fix, pesan penginapan yang free cancellation ya, jadi ketika ada perubahan pada rencana perjalanan kalian, kalian tidak rugi karena terlanjur pesan penginapan di lokasi yang kurang pas.
Oke setelah semua siap, walaupun ane solo trip yang tidak mempersiapkan rencana perjalanan sama sekali, bukan berarti kita tidak siap dengan kondisi. Bagi ane pribadi, solo trip seperti ini memberi kita kebebasan, terserah mau ngapain, wong sendirian ini perginya. Mau ke London cuma pindah tidur doang juga gak ada yang protes (tapi kan sayang ya, udah jauh-jauh lha cuma pindah tidur). Tapi, meskipun bebas, kita juga tetap harus siap dengan diri kita sendiri. Dimulai dari pakaian apa yang akan kita kenakan (apalagi seandainya sedang musim dingin), obat-obatan yang perlu dibawa, makanan buat bekal seandainya kita tidak cocok dengan makanan di negeri orang (masa iya gak makan), tas-tas yang akan dibawa, dan perlengkapan pendukung solo trip anda (misal gadget dan perlengkapannya, colokan universal, dan sebagainya).
Untuk persiapan ini, mari kita bedah satu-satu. Pertama adalah pakaian yang akan ane bawa. Sebelum memilih pakaian, ane cari informasi dahulu mengenai musim yang berlangsung pada saat ane di sana. Kebetulan waktu itu adalah summer. Angin dingin rasa-rasa di kaki gunung tergambar di kepala. Maka untuk pakaian ane sehari-hari, ane bawa beberapa kaos dan kaos berkerah, celana panjang dua stel (jeans), celana training, jaket yang agak lumayan tebal. Tidak lupa ane juga bawa satu baju batik, buat persiapan aja barangkali pas peringatan 17 Agustus bisa merayakan di kantor kedutaan Indonesia di London (dan benar saja terpakai). Sebagai tambahan, waktu itu ane bawa scarf juga, meskipun akhirnya tidak terpakai.Sisanya untuk pelengkap-pelengkapnya dibawa secukupnya, seperti kaos kaki, pakaian dalam, dan topi (yang ujungnya lagi-lagi tidak terpakai). Oh iya, untuk alas kaki pilihlah yang nyaman. Ane waktu itu memutuskan untuk membawa sepatu yang biasa ane pakai jogging kecil-kecil. Ingat, ngetrip begini pasti banyak yang namanya jalan kaki. Pilih sepatu atau sandal yang nyaman dipakai jalan seharian. Kalau perlu, ditambah sol tambahan yang bagus di dalam sepatunya agar lebih empuk dan nyaman di kaki.
Kedua yaitu obat-obatan. Kebetulan ane bawa beberapa obat darurat, seperti obat flu, obat maag, dan obat diare. Tidak lupa sekotak penuh "Tolak Angin" untuk spare selama satu minggu, dan juga vitamin C untuk menjaga daya tahan tubuh selama nge-trip. Bagi kalian yang memiliki kendala kondisi kesehatan tertentu dan butuh obat tertentu (misal penderita asma), jangan lupa obatnya dibawa juga ya. Dan ini yang tidak kalah pentingnya dan suka disepelekan oleh orang-orang, krim pijat atau koyo. Serius, di luar negeri sana kalau kita ngetrip seperti ini, pasti banyak jalan kaki. Dijamin itu kaki pada pegel. Jadi, pas jalan bisa sambil ditempel koyo, dan pas di penginapan bisa dioleskan krim pijat. Ketiga yaitu makanan. Ane pribadi gak banyak bawa makanan, hanya bawa roti (untuk hari pertama di sana). Selain itu ane juga bawa beberapa camilan seperti snack, energy bar, dan permen. Ane pribadi bener-bener berencana untuk makan makanan di sana, walaupun itu adalah fast food restaurant, sehingga ane hanya membawa makanan seperti itu untuk keperluan tertentu saja.
Keempat, tas. Tentukan tas yang ingin kalian bawa senyamannya ya. Kalau ane, ane bawa satu tas carrier kapasitas 40L, satu tas slempang kecil dan satu tas kamera kecil. Kenapa ane gak bawa tas koper tapi malah bawa tas carrier, ya menurut ane lebih enak bawa tas yang bisa digendong seperti carrier daripada bawa yang diseret seperti koper. Apalagi sendirian dan banyak berpindah akomodasi (naik bus, naik tube, jalan kaki ke sana ke sini sampai penginapan), maka lebih fleksibel kalau menggunakan tas yang digendong. Sementara untuk tas slempang ini dibutuhkan untuk bawa barang-barang kecil yang akan selalu dibawa selama jalan-jalan. Misalnya passport dan visa, dompet dan uangnya, handphone, power bank, dan cemilan selama perjalanan.
Kelima, yaitu perlengkapan pendukung. Yang ane bawa waktu itu antara lain power bank dan handphone, kamera lengkap dengan baterai cadangan, colokan universal. Seandainya kalian bepergian ke luar negeri dengan berkelompok, kalian dapat sewa modem wi-fi portable yang dapat digunakan untuk paket internet secara berkelompok. Namun, karena saya bepergian sendirian, saya memilih untuk beli sim card lokal UK di bandara sana. Internet ini sangat diperlukan bagi anda yang ingin trip seperti ini, dikarenakan anda butuh maps untuk perjalanan anda. Dan terakhir yang jelas harus dibawa dan dipersiapkan tentu saja uang cash. Namun harus diingat, jangan disimpan sembarangan ya, daripada hilang di tengah jalan kan. Dan dalam perjalanan ane waktu itu, ane memutuskan untuk menghabiskan total maksimal tujuh juta rupiah dari awal berangkat sampai pulang kembali ke Indonesia (dan surprisingly, masih sisa setengahnya saat balik). Dan untuk uang cash ini, sebaiknya kalian cari tempat penukaran uang dengan rate terbaik. Waktu itu sih ane tukar di money changer di daerah depan Mall Kelapa Gading karena ane tukar sudah agak mepet dengan keberangkatan, karena pas sekalian main ke daerah Kelapa Gading. Rate-nya tidak terlalu bagus sih, tapi lumayan lah, daripada pusing cari-cari lagi padahal sudah dekat dengan waktu keberangkatan kan.
Oke, sekian dulu dari ane. Kemudian gimana sih pengalaman dari berangkat, kemudian selama di London, dan dilanjutkan dengan kepulangan? Nanti ane lanjut di part selanjutnya.
Stay safe and stay healthy semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar