Sabtu, 05 September 2020

Jalan-Jalan ke Negeri Orang (London - UK) - part 2 (sharExperience)

Halo, melanjutkan dari part 1 sebelumnya, kali ini ane akan bahas mengenai pengalaman solo trip ke negeri orang. Sebelumnya, ane membahas mengenai apa aja persiapan ane untuk ke luar negeri. Nah, kali ini ane akan membahas mengenai bagaimana sih saat perjalanan?

Oke, pertama, untuk keberangkatan. Seperti yang ane sebut di artikel sebelumnya, ane berangkat naik pesawat Garuda Indonesia. Yak setelah ane ubek-ubek, ternyata ane menemukan sedikit potongan tiket tertanggal 15 Agustus 2017, yang berarti ane berangkat tanggal 15 Agustus 2017.

Ane duduk di sebelah kiri, bersama dengan satu anak (mungkin asli orang Inggris) usia 10-14 tahun. Si anak membawa satu tas gitar yang ditaruh di kursi antara ane dengan si anak (pikiran ane, ini tas gitar dibeliin tiket kali ya, dahsyat). Skip, perjalanan ditempuh selama kurang lebih total 15 jam, sudah termasuk dengan transit di Singapura. Selama flight, kita disuguhi dengan 3 kali makan yang, menurut ane sih, termasuk lumayan enak. Penerbangan dilengkapi dengan In Flight Entertainment yang menarik, film yang update, musik yang menarik, dan permainan yang menyenangkan. Waktu itu, ane menghabiskan waktu hanya dengan mendengarkan musik piano klasik dan.. tidur. Sesekali saja ane nonton film dan main game yang tersedia di In Flight Entertainment. Skip, setelah sekitar 15 jam perjalanan, tibalah ane di Heathrow, London.

Awal pertama menginjakkan kaki di Bandara Heathrow langsung mikir "wah akhirnya nginjekin kaki di negara orang". Terlintas di pikiran juga, sekarang ane yang jadi bule di negeri orang. Beruntung saat itu ternyata ada satu orang dari kantor yang sama dengan ane juga lagi trip ke London. Walhasil, pas turun minimal ada temen ngobrol sebentar lah, gak langsung canggung harus ganti bahasa buat komunikasi.

Ane beli sim card untuk smartphone ane di sim card vending machine yang tersedia beberapa buah sepanjang jalan dari pesawat sampai ke pengambilan bagasi. Harga satu sim card yang ane beli berkisar antara 15-30 poundsterling (ane agak lupa pastinya berapa), dan salah satu fasilitas yang ane cari adalah total kuota yang lumayan, sekitar 10-20 GB untuk sebulan (lha ane kan cuma 5 hari, 10-20 GB mah udah banyak banget). Skip, setelah duduk di bandara sekitar 2-3 jam, ane mulai cari-cari fasilitas transportasi untuk ke penginapan ane yang pertama, Heathrow Lodge. Kebetulan dari hasil cetak pesanan kita dari situs booking dot com, kita diberi petunjuk bagaimana cara kita ke penginapan tersebut. Ane tinggal bertanya ke bagian informasi di bandara Heathrow untuk minta ditunjukkan ke mana saya harus jalan. Skip, ane naik salah satu bus dari bandara Heathrow yang halte perhentian pertamanya sangat dekat dengan Heathrow Lodge. Bus ini ternyata gratis.

Sampai di penginapan, langsung check-in ke penginapannya. Di sini, sistemnya adalah bayar di tempat, jadi siapkan uang untuk membayarnya. Ane diarahkan ke salah satu kamar yang ada di ujung lorong (kalau saya tidak salah, kamar nomor 6). Lebih tepatnya sih bukan ujung lorong banget ya. Dari lorong, di ujungnya ada satu pintu, setelah dibuka itu kaya mentok dan di sebelah kanannya ada satu pintu lagi, nah itu kamarnya. Fasilitasnya? Jangan bayangkan kalian dapat fasilitas kamar hotel bintang 3 atau 4, walaupun dengan nominal yang sama, di Indonesia kita sudah bisa menginap di hotel bintang 3 atau 4. Kamar yang ane dapat kebetulan sangat kecil. Hanya ada satu kasur, satu wastafel, satu meja kecil, dan tempat sampah di bawahnya. Kamar mandi terpisah dari kamar, atau biasa kita sebut kamar mandi luar. Fasilitas kamar mandinya terdiri dari shower dan kloset duduk. 


Setelah menghabiskan satu malam, ane lanjutkan untuk cari sarapan. Ane coba cari tempat makan yang ada di dekat penginapan sekitar 3-5 menit jalan kaki, tapi nihil. Alhasil ane tanya ke resepsionis, dan dijawab bahwa yang terdekat adalah McDonald's sekitar 15-25 menit jalan kaki. Padahal kalo di Indonesia, keluar sedikit udah ada warteg, udah ada warmindo, hehe. Skip, ane coba jalan ke arah yang ditunjukkan oleh resepsionis, dan benar ane temukan McDonald's tersebut, dekat dengan pombensin. Berhubung ane tidak menemukan logo halal di sini, ane pesan makanan yang judulnya paling memungkinkan untuk ane makan, yaitu beef burger. Ya, daripada gak makan sama sekali kan.

Perjalanan hari kedua dilanjutkan ke penginapan kedua terlebih dahulu. Penginapan kedua ini terletak di daerah Camden, dan nama penginapannya adalah Smart Camden Inn. Dari penginapan pertama ini, perjalanan ane dimulai dari kembali ke Bandara Heathrow. Ane kembali ke bandara atas saran termudah dari hasil cetak pemesanan hotel ane via booking dot com. Perjalanan ane dimulai dengan bus menuju ke bandara, dilanutkan dengan naik tube. Dan di sinilah perjalanan yang cukup menarik bagi ane. Tube ini seperti KRL kalau di Jakarta (tentu dengan kondisi yang berbeda), dan apabila kita melihat melalui Google Maps, maka sudah disarankan waktu terbaik bagi kita untuk naik tube ini. Kenapa? Karena tube ini, seperti halnya KRL, juga penuh sesak apabila pada jam tertentu. Misalnya jam keberangkatan karyawan ke kantor, jam keberangkatan sekolah, dan sebagainya. Sehingga, Google Maps akan menyarankan kita untuk mulai naik tube di luar waktu-waktu tersebut.

Nah ini pengalaman pertama ane naik tube ini, dan ternyata cukup nyaman menurut ane. Sekali lagi, di luar jam padat tadi ya. Ane berangkat dari Bandara Heathrow menuju stasiun terdekat dari penginapan ane, yaitu Mornington Crescent. Skip, sesampainya ane di stasiun Mornington Crescent, ane lanjutkan dengan jalan kaki ke penginapan ane (sekitar 10 sampai 20 menit jalan kaki). Bangunannya sama seperti bangunan-bangunan di sebelahnya, bukan bangunan khusus sebuah hotel. Ane langsung check in dan di sini diminta untuk deposit sejumlah uang (ane lupa, mungkin sekiar 5-10 pounds), dan deposit ini akan dikembalikan setelah kita check out. Di penginapan ini ada locker pribadi di kamarnya, namun untuk mengaksesnya, kita harus membayar sejumlah uang (ane lupa pastinya, kalau tidak salah sekitar 5-10 pounds juga), baru kita diberikan akses untuk locker-nya. Oh iya, penginapan ini bisa dipesan melalui Booking dot com dan bisa langsung dibayar menggunakan kartu kredit. Jadi di penginapan ini, anda hanya tinggal check in karena anda sudah membayar.

Karena ane sampai sudah siang, dan tidak ada rencana spesifik akan ke mana, alhasil ane putuskan untuk keluar penginapan dan jalan-jalan di sekitar penginapan selama beberapa jam. Lihat-lihat tempat makan terdekat, tempat belanja terdekat, stasiun dan halte bis terdekat, dan suasana di sekitar. 

Setelah ane keliling sekitar penginapan untuk mengetahui kira-kira ada apa saja di sana, ane memutuskan untuk melanjutkan perjalanan sedikit ke area taman terdekat, yaitu Regent's Park. Tamannya sangat luas, bahkan ketika ane berjalan-jalan di taman tersebut, ada beberapa lapangan yang baseball di dalamnya. Dan jujur kalau ane pribadi, baru ini ane melihat taman kota yang luasnya luas banget. Ada lapangan baseball, ada kebun binatang, buat jogging dari ujung ke ujung juga lumayan tuh kayanya. Tapi di hari pertama ini, ane gak nelusuri taman ini dari ujung ke ujung, ane cuma masuk dan lihat-lihat sebentar, kemudian balik lagi jalan kaki.

Balik dari taman, ane langsung jalan-jalan sebentar dan berpikir satu hal, makan. Terus mikir lagi, setelah makan, mau ngapain ane ya. Ane putuskan untuk beli air minum sedikit dan balik ke penginapan. Untuk makannya, ane beli KFC yang ane lihat di dekat penginapan (udah ke luar negeri, makan tetep aja KFC sama MCD). Ane beli chicken burger di sini, yang, menurut ane sih, rasanya beda sama chicken burger KFC yang di Indonesia. Porsinya juga gak besar-besar amat, tapi lumayan lah. Trip ini kemudian saya lanjutkan untuk plan di hari selanjutnya, karena di hari selanjutnya adalah tanggal 17 Agustus, maka saya memutuskan untuk, coba deh ke KBRI London, mungkin ada upacara bendera, dan mungkin ada makan juga di sana.

Sekian dulu dari ane untuk solo trip di hari kedua ini. Di part selanjutnya akan ane lanjutkan untuk pengalaman solo trip yang gak pake itinerary sama sekali ini.

Stay safe and stay healthy semuanya.

Senin, 10 Agustus 2020

Jalan-Jalan ke Negeri Orang (London - UK) - part 1 (sharExperience)

Halo, penulis kembali lagi untuk sedikit sharing mengenai gimana sih pengalaman pertama pergi ke luar negeri.

Pertama, sebelum kita bergerak ke trip di negeri orang, ada baiknya kita membahas sedikit mengenai persiapan dokumen yang kita perlukan untuk ke luar negeri. Di sini, ane pribadi melakukan perjalanan yang memang murni hanya untuk liburan. Bukan untuk keperluan beasiswa atau lainnya, namun hanya murni untuk liburan. Dan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri, tentu dokumen utama yang kita butuhkan adalah passport dan visa. Ane akan bahas sedikit pengalaman waktu ane mengurus pembuatan kedua dokumen ini (sekitar pertengahan 2017). Yang pertama, untuk passport, ane urus di kantor imigrasi Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng (karena ane kerja di kawasan bandara, jadi cukup dekat). Saat itu ane masih menggunakan cara yang lama, yaitu dengan mengantri dari pagi (sekitar pukul 5.45 WIB) dan dapat antrian agak terakhir. Waktu itu seingat ane, dokumen yang ane bawa KTP asli (dan fotocopy), KK asli (dan fotocopy), fotocopy ijazah terakhir, sama materai 6000. Ane lupa dulu ada satu lagi butuh surat keterangan apa, tapi waktu itu bisa terbantu menggunakan ID Card pegawai. Setelah selesai semua berkas ini, tinggal tunggu panggilan untuk difoto, kemudian selesai. Tinggal bayar biayanya (bisa transfer via ATM kok), dan tinggal tunggu passport kita selesai dalam beberapa hari kerja.

Kita lanjut ke dokumen kedua, yaitu visa. Untuk dokumen yang ini, waktu itu ane mengurus melalui salah satu lembaga di Jakarta yang membantu urusan ini, yaitu VFS. Ane sempat gagal saat urus visa pertama kali dikarenakan saldo di rekening yang dianggap kurang (waktu itu disyaratkan minimal ada saldo mengendap selama 3 bulan pada rekening anda sebesar Rp 50.000.000,-). Kesalahan yang ane lakukan adalah, memindahkan saldo ane dari satu rekening ke rekening lain yang akan dicetak rekening korannya di hari yang sama, baru kemudian dilakukan cetak rekening koran. Sehingga di situ terlihat bahwa ada kejanggalan pada rekening ane yang dicetak (padahal ya saldo dari rekening ane sendiri, tapi berhubung yang dicetak cuma satu rekening, akhirnya bermasalah). Kemudian waktu itu ane urus yang kedua kalinya. Tapi kali ini ane lengkapi dengan surat pernyataan bermaterai bahwa nominal itu dari rekening sendiri. Dan daripada saya gagal lagi, saya menambahkan surat penjamin dari orang tua beserta rekening koran 3 bulan terakhir dari rekening orang tua. Singkat cerita, akhirnya pengajuan visa saya disetujui.

Pada saat mengurus visa, waktu itu saya ditanya seperti: "Kapan akan berangkat?", "Berangkat naik pesawat apa?", "Berapa lama berada di sana?", dan "Sesampainya di sana, di mana kamu akan tinggal?". Pada saat itu, tentu kita harus persiapkan itu semua. Minimal siap untuk menjawab keempat pertanyaan tersebut. Ane sendiri gak nyusun rencana perjalanan selama di London (baiknya untuk kalian yang memang ingin explore ke sana sini, susun rencana perjalanan ini sebaik-baiknya), toh ane berencana untuk solo trip ke sana, yang penting nikmati saja. Jadi memang ane gak nyusun rencana perjalanan (atau yang disebut itinerary), yang penting ada tempat tidur, bisa istirahat, sisanya tinggal mau ke mana ane hari ini, udah.

Lanjut untuk menjawab keempat pertanyaan tersebut. Ane berangkat di bulan Agustus 2017 (agak lupa tanggalnya, tapi deket-deket sama Agustusan lah) menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Pesawat ini transit dulu sebentar di Singapura untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandara Heathrow London. Ane di sana hanya sekitar lima hari, benar-benar hanya jalan-jalan sendiri (total 7 hari dengan flight-nya). Dan ane tinggal di dua tempat. Pertama, ane mencari penginapan murah yang terletak dekat dengan bandara karena ane sampai sana sekitar jam 19.00 WIB (agak lupa pastinya waktu itu sampai di sana jam berapa). Dan yang kedua, ane mencari penginapan yang dekat dengan kota yang ane tuju (tentu dengan harga yang murah juga). Penginapan yang pertama adalah "Heathrow Lodge" (serius ini termasuk murah di dekat bandara ya), dan yang kedua adalah di "Smart Camden Inn" (model share room dengan kasur tingkat). Penginapan ini ane pesan melalui booking dot com. Dan saran ane, kalau sebenarnya kalian ingin buat rencana perjalanan dan belum fix, pesan penginapan yang free cancellation ya, jadi ketika ada perubahan pada rencana perjalanan kalian, kalian tidak rugi karena terlanjur pesan penginapan di lokasi yang kurang pas.

Oke setelah semua siap, walaupun ane solo trip yang tidak mempersiapkan rencana perjalanan sama sekali, bukan berarti kita tidak siap dengan kondisi. Bagi ane pribadi, solo trip seperti ini memberi kita kebebasan, terserah mau ngapain, wong sendirian ini perginya. Mau ke London cuma pindah tidur doang juga gak ada yang protes (tapi kan sayang ya, udah jauh-jauh lha cuma pindah tidur). Tapi, meskipun bebas, kita juga tetap harus siap dengan diri kita sendiri. Dimulai dari pakaian apa yang akan kita kenakan (apalagi seandainya sedang musim dingin), obat-obatan yang perlu dibawa, makanan buat bekal seandainya kita tidak cocok dengan makanan di negeri orang (masa iya gak makan), tas-tas yang akan dibawa, dan perlengkapan pendukung solo trip anda (misal gadget dan perlengkapannya, colokan universal, dan sebagainya).

Untuk persiapan ini, mari kita bedah satu-satu. Pertama adalah pakaian yang akan ane bawa. Sebelum memilih pakaian, ane cari informasi dahulu mengenai musim yang berlangsung pada saat ane di sana. Kebetulan waktu itu adalah summer. Angin dingin rasa-rasa di kaki gunung tergambar di kepala. Maka untuk pakaian ane sehari-hari, ane bawa beberapa kaos dan kaos berkerah, celana panjang dua stel (jeans), celana training, jaket yang agak lumayan tebal. Tidak lupa ane juga bawa satu baju batik, buat persiapan aja barangkali pas peringatan 17 Agustus bisa merayakan di kantor kedutaan Indonesia di London (dan benar saja terpakai). Sebagai tambahan, waktu itu ane bawa scarf juga, meskipun akhirnya tidak terpakai.Sisanya untuk pelengkap-pelengkapnya dibawa secukupnya, seperti kaos kaki, pakaian dalam, dan topi (yang ujungnya lagi-lagi tidak terpakai). Oh iya, untuk alas kaki pilihlah yang nyaman. Ane waktu itu memutuskan untuk membawa sepatu yang biasa ane pakai jogging kecil-kecil. Ingat, ngetrip begini pasti banyak yang namanya jalan kaki. Pilih sepatu atau sandal yang nyaman dipakai jalan seharian. Kalau perlu, ditambah sol tambahan yang bagus di dalam sepatunya agar lebih empuk dan nyaman di kaki.

Kedua yaitu obat-obatan. Kebetulan ane bawa beberapa obat darurat, seperti obat flu, obat maag, dan obat diare. Tidak lupa sekotak penuh "Tolak Angin" untuk spare selama satu minggu, dan juga vitamin C untuk menjaga daya tahan tubuh selama nge-trip. Bagi kalian yang memiliki kendala kondisi kesehatan tertentu dan butuh obat tertentu (misal penderita asma), jangan lupa obatnya dibawa juga ya. Dan ini yang tidak kalah pentingnya dan suka disepelekan oleh orang-orang, krim pijat atau koyo. Serius, di luar negeri sana kalau kita ngetrip seperti ini, pasti banyak jalan kaki. Dijamin itu kaki pada pegel. Jadi, pas jalan bisa sambil ditempel koyo, dan pas di penginapan bisa dioleskan krim pijat. Ketiga yaitu makanan. Ane pribadi gak banyak bawa makanan, hanya bawa roti (untuk hari pertama di sana). Selain itu ane juga bawa beberapa camilan seperti snack, energy bar, dan permen. Ane pribadi bener-bener berencana untuk makan makanan di sana, walaupun itu adalah fast food restaurant, sehingga ane hanya membawa makanan seperti itu untuk keperluan tertentu saja.

Keempat, tas. Tentukan tas yang ingin kalian bawa senyamannya ya. Kalau ane, ane bawa satu tas carrier kapasitas 40L, satu tas slempang kecil dan satu tas kamera kecil. Kenapa ane gak bawa tas koper tapi malah bawa tas carrier, ya menurut ane lebih enak bawa tas yang bisa digendong seperti carrier daripada bawa yang diseret seperti koper. Apalagi sendirian dan banyak berpindah akomodasi (naik bus, naik tube, jalan kaki ke sana ke sini sampai penginapan), maka lebih fleksibel kalau menggunakan tas yang digendong. Sementara untuk tas slempang ini dibutuhkan untuk bawa barang-barang kecil yang akan selalu dibawa selama jalan-jalan. Misalnya passport dan visa, dompet dan uangnya, handphone, power bank, dan cemilan selama perjalanan.

Kelima, yaitu perlengkapan pendukung. Yang ane bawa waktu itu antara lain power bank dan handphone, kamera lengkap dengan baterai cadangan, colokan universal. Seandainya kalian bepergian ke luar negeri dengan berkelompok, kalian dapat sewa modem wi-fi portable yang dapat digunakan untuk paket internet secara berkelompok. Namun, karena saya bepergian sendirian, saya memilih untuk beli sim card lokal UK di bandara sana. Internet ini sangat diperlukan bagi anda yang ingin trip seperti ini, dikarenakan anda butuh maps untuk perjalanan anda. Dan terakhir yang jelas harus dibawa dan dipersiapkan tentu saja uang cash. Namun harus diingat, jangan disimpan sembarangan ya, daripada hilang di tengah jalan kan. Dan dalam perjalanan ane waktu itu, ane memutuskan untuk menghabiskan total maksimal tujuh juta rupiah dari awal berangkat sampai pulang kembali ke Indonesia (dan surprisingly, masih sisa setengahnya saat balik). Dan untuk uang cash ini, sebaiknya kalian cari tempat penukaran uang dengan rate terbaik. Waktu itu sih ane tukar di money changer di daerah depan Mall Kelapa Gading karena ane tukar sudah agak mepet dengan keberangkatan, karena pas sekalian main ke daerah Kelapa Gading. Rate-nya tidak terlalu bagus sih, tapi lumayan lah, daripada pusing cari-cari lagi padahal sudah dekat dengan waktu keberangkatan kan.

Oke, sekian dulu dari ane. Kemudian gimana sih pengalaman dari berangkat, kemudian selama di London, dan dilanjutkan dengan kepulangan? Nanti ane lanjut di part selanjutnya.

Stay safe and stay healthy semuanya.

Rabu, 05 Agustus 2020

Review Nokia 6 2017 Setelah Pemakaian Dua Tahunan (sharExperience)

Halo semuanya, setelah sekian tahun vacuum dari blog ini, kali ini ane kembali untuk menulis blog ini. 

Untuk kali ini, ane ingin bahas sedikit tentang salah satu gadget yang ane gunakan sehari-hari, yaitu Nokia 6 yang dirilis tahun 2017. Gawai yang ane gunakan satu ini sudah berumur 2 tahun lebih, karena ane beli pada awal tahun 2018. Awal Nokia kembali meluncurkan gawai tentu ada rasa tertarik pengen beli, karena seperti yang kita semua tahu, Nokia pernah menjadi raja di era awal 2000an. Mulai dari Nokia 3310 (yang sampai saat ini kita kenal dengan meme hp yang indestructible) sampai ketika Nokia menggunakan OS Symbian seperti varian 7650, 3650, 6600 dan sebagainya. Nokia juga mengeluarkan varian gawai yang bisa digunakan untuk gaming pada masanya, seperti Nokia N-Gage dan N-Gage QD. Bahkan Nokia pun mengeluarkan tipe communicator yang mendukung mereka yang membutuhkan gawai untuk mendukung aktifitas bisnisnya secara mobile, misalnya Nokia 9500 communicator.

Ane beli gawai ini di salah satu gerai resmi yang ada di salah satu mall di daerah Jakarta Utara. Pada saat ane beli, saat itu harganya di kisaran 3 jutaan (lumayan juga ya harganya waktu itu). First impression saat mencoba menggunakan piranti tes yang dipajang pada gerainya, terasa mantap digenggam. Agak lebih berat dari gawai yang ane gunakan sebelumnya (Sony Xperia Z3), namun justru terasa mantap saat digenggam. Hasil kameranya juga lebih tajam dibandingkan dengan gawai ane yang sebelumnya. Memiliki internal storage yang lebih mumpuni dari gawai ane yang sebelumnya, kamera yang lebih baik, tertarik juga dengan brand "Nokia", dan berhubung dana yang ane miliki memang hanya di kisaran segitu saja, jadi ya sudah ane beli gawai ini.
 
Di dalam box-nya berisi kabel micro USB beserta kepala charger-nya, earphone, buku panduan, dan juga unit Nokia 6 keluaran tahun 2017.

  

Bagaimana dengan garansinya? Seperti yang ane tulis di atas, ane beli gawai ini dari salah satu gerai resmi di salah satu mall di daerah Jakarta Utara. Gerai tersebut menawarkan paket garansi salah satunya adalah paket garansi full selama satu tahun, termasuk jika gawai kita jatuh dan rusak dan tidak bisa dibenahi, maka akan diganti dengan unit baru, jadi tenang. Hands on Nokia 6 2017, kesan pertama kali setelah dibeli adalah, terasa berat namun terasa mantap digenggam. Namun, entah kenapa, hasil jepretan kamera antara unit yang dibeli dengan unit yang dipajang agak terasa berbeda (mungkin ada yang tau kenapa hasil jepretan kamera gawai yang dibeli dan gawai yang dipajang terasa berbeda? ). Ini contoh hasil jepretan kamera Nokia 6 2017



 
Seperti yang kita ketahui, bahwa Nokia menggunakan system Android One, dimana salah satu keunggulannya adalah dipastikan kita akan terus menerima update terbaru untuk sistemnya (sampai batas maksimal yang mampu dijalankan oleh hardware gawai tersebut). Dengan spesifikasi RAM 3 GB dan ROM 32 GB, sampai ane menulis artikel ini update terakhir yang ane dapat sampai ke android versi 9. Kemudian untuk UI-nya, menurut ane juga cukup stabil dan cepat untuk dioperasikan. Dengan spesifikasi standar ini, gawai ini cukup memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, termasuk untuk gaming ringan.
 
Apa saja yang sering ane gunakan di gawai ini? Tentu yang paling sering adalah aplikasi yang terkait dengan media sosial daring, dan tidak perlu dideskripsikan lebih detail, gawai ini lebih dari cukup untuk operasional media sosial daring ini. Selain itu juga untuk operasional standar seperti email, maps, browsing, belanja online, dan masih banyak lagi. Dari semua ini, kita coba kulik untuk browsing dan maps. Untuk browsing tidak terlalu bermasalah, hanya saja terkadang suka terasa lambat untuk load page-nya, sehingga jika anda ingin browsing dan perlu buru-buru, suka ada kendala. Sedangkan untuk maps, cukup baik bagi ane pribadi. Tidak pernah ada kendala untuk maps, baik dari aplikasi Google Maps maupun jika menggunakan Waze. Untuk share location via Whatsapp juga tidak bermasalah.

Nah gimana kalo mobile gaming?

Kita kulik sedikit untuk mobile gaming, jawaban ane pribadi adalah, tergantung game yang anda mainkan. Sejauh ini beberapa game yang pernah ane mainkan di sini adalah Mobile Legends, PUBGM, Pokemon GO (ketiganya sudah di-uninstall karena memori penuh), emulator untuk PSX, emulator untuk PSP, emulator untuk SNES, Hago (buat nge-game bareng istri, hehe), simulator bus, dan lain-lain. Untuk tiga game yang pertama, tidak pernah ada masalah yang berarti kecuali satu, panas. Ya, setelah dimainkan sampai menghabiskan baterai sebanyak 20-30%, panasnya langsung bener-bener terasa.
 
Kemudian, untuk gawai di kelasnya, apa sih menurut ane kelebihan, kekurangan, atau mungkin keluhan selama 2 tahun lebih pemakaian?
Untuk kelebihan, pertama ane pribadi suka dengan suara yang dihasilkan oleh loudspeaker-nya. Udah ada "Dolby Speaker" bikin suaranya terasa mantap.




Kedua, bobot gawai dan ukurannya membuat terasa mantap untuk digenggam. Ketiga, mungkin ini preferensi untuk ane pribadi, penempatan fingerprint sensor yang terletak di depan dan dapat berfungsi sebagai home button dan juga untuk lockscreen membuat kita yang sudah familiar dengan home button di depan tengah bawah (susah amat bahasanya yak) menjadi mudah untuk mengoperasikannya.

Untuk kekurangan, atau mungkin keluhan, yang pertama adalah panas. Gawai ini termasuk cepat panas. Untuk pemakaian outdoor di siang hari terik, akan sangat cepat panas. Mungkin dikarenakan gawai ini memiliki frame dan body yang terbuat dari aluminium. Kedua, menurut ane walaupun octa core, namun performa SD 430 yang tertanam sebagai dapur pacunya agak kurang baik apabila anda adalah mobile gamer. Ada muncul lag beberapa kali saat bermain Mobile Legends misalnya, atau misal anda sedang bermain suatu game dengan genre fighting yang mengharuskan anda melawan musuh dalam jumlah besar (waktu itu ane main Stickman Legends), langsung sangat terasa lag-nya.

Keluhan ane terakhir adalah masalah NFC (ya, gawai ini juga sudah dilengkapi dengan NFC). Perbandingan ane pribadi, antara Sony Xperia Z3 dengan Nokia 6 2017 ini, mungkin ada di kemampuan sensitifitas pembacaannya. Karena ketika ane coba untuk cek saldo e-money yang sama pada kedua gawai ini, Nokia 6 2017 ini agak sulit untuk membaca data di kartu e-money. Sementara untuk Sony Xperia Z3, ketika ane tempel kartunya di belakang gawai, data langsung terbaca dengan mudah, tanpa effort yang berlebih untuk geser-geser kartu sampai gawai bisa membacanya.

Secara umum, Nokia 6 keluaran 2017 ini sudah cukup mumpuni untuk kebutuhan kita sehari-hari. Disadur dari gsmarena.com, berikut garis besar spesifikasi dari gawai ini:

 - Layar 5.5 inch 1080x1920 pixels, 403 ppi density (full HD berarti), Corning Gorilla Glass 3
 - Kamera belakang 16MP f/2.0 dual LED flash dan kamera depan 8MP f/2.0
 - Frame dan body aluminum
 - Processor SD 430 (28nm, octa core 1.4 GHz) dengan GPU Adreno 505
 - Baterai 3000 mAh dengan charger 10W (ane ngecas dari 10% sampai 90% sekitar 2 jam lebih)
 - RAM / ROM ada dua varian, 3 GB / 32 GB dan 4 GB / 64 GB (punya ane yang 3 GB/32 GB)
 - 3.5mm jack
 - Micro SD slot, nano SIM card slot
 - Stereo loudspeaker




Terakhir, pilihlah gawai yang memang memenuhi kebutuhan anda, dan sesuaikan dengan budget anda masing-masing. Bagi anda yang suka mobile gaming, saat ini sudah banyak yang harganya lebih terjangkau dengan spesifikasi yang lebih mumpuni. Bagi anda yang sering isi e-money, cari gawai yang sudah memiliki NFC. Bagi anda yang masih merasa butuh jack 3.5mm untuk earphone, headphone, dan semacamnya untuk mendengarkan musik, cari gawai yang masih memiliki jack tersebut. Bagi anda yang memilih gawai tidak hanya sekadar fungsionalitas, namun juga untuk gengsi, maka saat ini banyak tersedia gawai yang paling up to date yang bisa jadi pilihan anda.